Rabu, 20 Februari 2013

Relevansi Filsafat dan Psikologi

NUR AZIZAH FADHILAH
Filsafat
http://filsafat.kompasiana.com/2011/03/03/relevansi-filsafat-dan-psikologi-344795.html

KITA ADALAH DIRI KITA SENDIRI. TAPI,AKAN SELALU ADA,MESKI KAU PIKIR MUSTAHIL,MESKI KAU TIDAK MERASAKAN KEHADIRANNYA,,, SELALU ADA ORANG-ORANG YANG BERPIKIR SEPERTIMU,BISA MEMAHAMIMU&BISA MENYAYANGIMU... TAK SEORANG PUN BENAR-BENAR SEBATANG KARA... KITA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SENDIRIAN... (_Ra)

Relevansi Filsafat dan Psikologi

OPINI | 03 March 2011 | 15:51










































































Dibaca: 607  




Banyak informasi penting dikumpulkan melalui berbagai ilmu pengetahuan dan mendapat perlakuan dari filsafat. Kita mengetahui bahwa psikologi dapat memberi gambaran kepada kita mengenai manusia, sosiologi, biologi, dan lain-lain. Hasil yang diperoleh setelah semua ilmu pengetahuan yang telah diteliti bukan merupakan gambaran campuran dari seorang manusia, tapi merupakan gambar-gambar yang berbeda. Gambar tersebut belum memuaskan karena menjelaskan aspek-aspek yang berbeda antarmanusia secara keseluruhan. Kita bisa menyatukan gambar-gambar terpisah  itu menjadi gambar seorang manusia yang lengkap, tetapi tidak menggunakan metode ilmiah saja. Hal tersebut juga memerlukan filsafat untuk menyatukan penemuan dari ilmu pengetahuan dan menguhubungkan konsep-konsep dasar yang ada.
Para filsuf menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan muncul sebelum dan setelah para ilmuwan menyelesaikan pekerjaannya. Isyarat awal para ilmuwan tradisional, contohnya bahwa semua kejadian disebabkan oleh kejadian lain. Beberapa pertanyaan tidak bisa dijawab oleh logika ilmu pengetahuan, karena penyebab itu tidak bisa ditemukan, yang ada hanyalah asumsi ilmu pengetahuan. Kecuali jika ilmuwan berasumsi bahwa kenyataan adalah kausalitas di alam, tidak akan ada yang bisa memulai untuk menyelidikinya. Para ilmuwan tidak bisa menjawab hal-hal yang bersifat kebalikan dari yang kita lihat. Filsafat adalah alami dan penting bagi manusia. Kita selamanya selalu mencari suatu acuan kerja yang komprehensif dimana beberapa penemuan akan memberikan perbedaan yang sangat besar. Tidak hanya bahwa filsafat itu merupakan cabang dari pengetahuan yang disertai dengan seni, ilmu pengetahuan/sains dan sejarah, tetapi juga sebenarnya meliputi disiplin ilmu secara teoritis dan menjelaskan hubungan hal-hal tersebut. Sekali lagi, filsafat berusaha untuk membuat sebuah hubungan secara keseluruhan dari semua bidang pengalaman.
Filsafat mempertanyakan jawaban, sedangkan psikologi menjawab pertanyaan atau masalah. Jadi dengan berfilsafat, psikolog mendapatkan solusi dari permasalahan kliennya. Karena terus diberikan pertanyaan secara terus menerus sampai akhirnya ada kesimpulan dari pertanyaan permasalahan itu. Ketika seseorang telah mampu mempertanyakan tentang dirinya, pembentukan dirinya, dan posisi dirinya di alam semesta ini, itu berarti orang tersebut sudah berfilsafat ke taraf yang paling tinggi, untuk itu dibutuhkan perenungan.
Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi, manusia di sepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi. Seperti filsuf Yunani terutama Plato dan Aristoteles. Setelah itu St. Augustine (354-430) dianggap tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada intropeksi dan keingintahuannya tentang fenomena psikologi. Descartes (1596-1650) mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya. Ia juga memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam abad 17 dan 18, misalnya Leibnits, Hobbes, Locke, Kant, dan Hume yang memberikan sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih berbentuk wacana, belum menjadi ilmu pengetahuan.
Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. Psikologi telah memiliki syarat untuk dapat berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan terlepas dari filsafat. Hal itu karena syarat ilmu pengetahuan, yaitu memiliki objek yaitu tingkah laku, memiliki metode penelitian (sejak laboratorium Wundt didirikan), sistematis,dan bersifat universal.
Filsafat adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Dialektika ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, dan ketertarikan/kepenasaranan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sedikit sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar